17:42 wib
JAKARTA - Rupiah mengakhiri akhir pekan ini dengan ditutup merosot cukup siginifakan. Namun, pelemahan ini bukan suatu yang mengejutkan. Pasalnya, pada pelemahan di penghujung minggu sudah lumrah terjadi.
Nilai tukar rupiah pada Jumat (20/11/2009) pukul 17.54 JATS, ditutup melemah cukup signifikan Rp9.566-9.536 per USD, dibanding perdagangan sebelumnya, Kamis 19 November di level Rp9.395-Rp9.365 per USD.
Sebelumnya, konsolidasi rupiah hari ini sudah diramalkan. Menurut OCBC BISP, ini terjadi lantaran dolar Amerika yang dalam tren penguatan sudah terlihat belakangan ini, semenjak beberapa hari yang lalu.
Sementara kabar berita yang mengatakan tentang adanya
kemungkinan capital control dalam bentuk pembatasan kepemilikan investor asing akan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) juga turut
melemahkan rupiah. Kabar berita tersebut selanjutnya diberitakan tidak akan berlaku pada saat ini.
Sementara menurut Valbury Securities, penguatan dolar salah satunya terjadi akibat perbaikan ekonomi dari krisis finansial diperkirakan akan berlangsung secara gradual, demikian dipaparkan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick. Namun, Zoelick memperingatkan ancaman dari tingginya unemployment yang diprediksi masih akan berlanjut.
Klaim terhadap tunjangan bagi orang tanpa pekerjaan (jobless claims) pada pekan lalu dirilis unchanged yang memperlihatkan bahwa sektor ketenagakerjaan secara perlahan mulai membaik.
Initial claims 505.000 jiwa pada pekan yang berakhir 14 November lalu, continued claims turun menjadi 5,611 juta jiwa yang merupakan level terendah sejak Maret lalu
Di pasar valuta, USD dan yen menguat terhadap mata uang utama lainnya ditengah naiknya kembali minat terhadap aset yang
tergolong safe-haven di saat risk appetite luntur sebagaimana tercermin dari turunnya bursa saham dan pasar komoditas.
Analismengatakan, investor mulai khawatir dan berjaga-jaga terhadap kondisi terkini mengingat data ekonomi yang dirilis akhir-akhir ini tidak terlalu meyakinkan sebagaimana perkiraannya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar